Program Pendataan Sebaran Habitat Kukang Jawa Tasikmalaya-Ciamis Juli2007-Juli2008


Penelitian ini adalah kegiatan penelitian (non profit tentunya) yang bertujuan mendata keberadaan kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan penyebarannya di Tasikmalaya-Ciamis. Pendataan sebaran habitat kukang jawa ini direkomendasikan oleh BKSDA Jawa Barat dan LIPI, dengan dukungan dana dari Rufford Small Grants Foundation. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di daerah Tasikmalaya & Ciamis selama bulan Juli 2007 hingga Agustus 2008 dengan penanggung jawab, saya; Winar, Indah Winarti, mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana Primatologi IPB dengan bimbingan Ibu Wirdateti, M. Si (LIPI), Prof. Hadi S. Alikodra (IPB dan WWF), dan Helga Schulze (Department for Neuroanatomy of Ruhr-University dan Loris Conservation Database).





Kukang Jawa


Kukang jawa terdaftar sebagai satwa dilindungi Pemerintah Indonesia berdasarkan UU Perlindungan No. 66/Kpts/Um/2/1973, SK Menhut 10 Juni 1991 No. 01/Kpts-II/1991, UU No. 5 Th. 1990, dan PP No. 7 th. 1999. Secara internasional, status konservasi kukang jawa ini masuk ke dalam kategori Data Deficient-En A1b (IUCN, 1994), alias kekurangan data populasi dan kondisinya di habitat aslinya di alam dan sedang dalam proses (dimungkinkan) dari Apendiks I menjadi Apendiks II (CITES, 2007).





Dari deretan peraturan dan kategori tersebut kita tentu sudah dapat mengetahui mengapa
kukang jawa dilindungi: kukang jawa terancam punah. Kenapa? Karena kurang data-banyak
perburuan dan dipiara masyarakat-tempat hidup rusak dan menyempit, penegakan hukum terhadap perlindungannya lemah, dan .... (sebut saja).





Bagi masyarakat pada umumnya, kepedulian terhadap keberadaan satwa ini di alam tidaklah
besar. Hal ini dimunkinkan karena banyak hal. Kukang dianggap tidak seeksotis satwa liar lain,
seperti orangutan, harimau, atau badak misalnya. Kukang juga sering dikenal masyarakat sebagai satwa lain, seperti panda/koala Irian atau Kuskus. Ketidaktahuan tentang kukang dan kondisinya di alam, membuat perlindungan kukang menjadi lemah. Dan akhirnya diperparah oleh tindakan orang-orang yang mungkin sudah tahu atau benar-benar tidak mau tahu, untuk mendapat keuntungan dari satwa ini sebagai peliharaan.







Mengapa dilakukan pendataan sebaran kukang jawa?


Pertama, informasi kondisi kukang jawa tidak pernah ada, baik sebaran habitatnya maupun
populasinya. Penelitian, perhatian konservasi, dan pelaksanaan perlindungan hukum satwa ini
sangat-sangat minim sekali.


Kedua, kondisi ini dapat membahayakan status konservasi kukang jawa dari ‘terancam punah’ (status sebelum Kurang Data) menjadi benar-benar ‘punah’, atau dari Apendiks II-Apendiks II. Ketiga, apakah kita akan diam saja seperti kita telah kehilangan badak jawa dan (mungkin) harimau jawa?







Apa yang dapat kita lakukan?


Ayo bergerak bersama, lindungi kukang jawa dari ketiadaan data kepunahan. Program
pendataan sebaran kukang jawa merupakan salah satu langkah awal dari sekian langkah-langkah yang dapat kita lakukan.
Jika kamu:
- Tidak sedang bertugas, bekerja, ataupun terikat pada perjanjian khusus yang menghambat
pekerjaan dan tanggung jawabnya pada kegiatan pendataan sebaran kukang jawa Tasikmalaya-
Ciamis) ini
- Memiliki kemampuan, pengetahuan, pengalaman, dan latar belakang yang cukup serta
berhubungan dengan pekerjaan proyek, diutamakan yang memiliki hobi dan biasa berpetualang
alam bebas ( hiking, camping)
- Jujur, ikhlas, serta memiliki itikad baik dan kesungguhan untuk ikut serta mencapai tujuan
pelestarian kukang jawa dengan lancar dan amanah
- Mahasiswa Biologi atau Komunikasi yang akan melaksanakan Kerja Praktek atau Tugas
Akhir/Skripsi (minimal tingkat III) dalam periode Nopember 2007-Juli 2008



- Siapa saja yang bisa Fotografi/Videography atau biasa dan hobi melakukan kegiatan di alam,
maka kamu sudah boleh ikutan sebagai:
1) Tim Peneliti dengan topik:
- Sebaran habitat kukang jawa (4orang)
- Vegetasi dan kualitas habitat kukang jawa (2 orang)
- Desain publikasi dan komunikasi penyadartahuan tentang kukang jawa (1 orang).
Tim peneliti diharapkan pernah mengikuti kegiatan survey flora-fauna di alam sebelumnya.
Atau sebagai
2) Tim Survey dan Kampanye Penyadartahuan
- bersama-sama tim peneliti mensurvey keberadaan kukang jawa
- bersama-sama seluruh tim melakukan kegiatan penyadartahuan tentang kukang jawa
- mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk foto atau video.

Seluruh tim berhak
- Mendapat akomodasi dengan ketentuan kegiatan proyek selama kegiatan di lokasi pendataan
-Mendapat pinjaman alat penelitian yang dibutuhkan, yaitu GPS, binokuler, peta, alat herbarium, dan headlamp.
-Beberapa anggota tim yang berdedikasi berhak mendapat binokuler sebagai tanda terima kasih dan kenang-kenangan kegiatan. Syarat & Ketentuan berlaku :-)



Seluruh tim harus
- Memahami dan menaati peraturan dan prosedur pelaksanaan proyek serta melaporkan setiap
hasilnya kepada penanggung jawab proyek
-Mematuhi dan mengikuti seluruh jadwal kegiatan, dari awal hingga proyek berakhir
-Mengikuti pelatihan proyek pelatihan peningkatan dan standardisasi survey dan kegiatan proyek pada bulan Agustus 2007
- Mengikuti kegiatan penyadartahuan tentang kukang jawa mulai bulan September 2007
- Bersama-sama melakukan survey pada Nopember 2007-Juli 2008.



Terus Caranya Caranya?



- mengisi formulir (Formulir Program Pendataan Kukang Jawa (Tasikmalay Ciamis) 2007-2008)
- mengembalikan formulir segera paling lambat tanggal 30 Juli 2007 ke email
ocescreation@gmail.com atau ke Studio Gecko Dezign, Jl. Margasari no. 3-4 Rajapolah
Tasikmalaya 46155 (Wawan)
Pengumuman seleksi akan dilakukan pada tanggal Pertengahan Agustus 2007
- Wajib mengikuti briefing selanjutnya setelah dinyatakan lulus seleksi, yaitu pada tanggal 22 Juli 2007
- Wajib mengikuti pelatihan peningkatan dan standardisasi survey dan kegiatan proyek dan PreSurvey pada bulan Agustus 2007
- Wajib mengikuti kegiatan penyadartahuan tentang kukang jawa mulai bulan September 2007-Juli 2008
- Wajib bersama-sama melakukan survey pada Nopember 2007-Juli 2008. Sebagai informasi,
jadwal dan jumlah survey yang dilakukan tergantung kepada jumlah lokasi habitat pada data awal presurvey. Perkiraan kegiatan lapangan adalah minimal tiap dua bulan sekali atau maksimal sebulan sekali selama Nopember 2007-Juli 2008.




Jadwal kegiatan lengkap dan seluruhnya akan diinformasikan jika sudah terseleksi.
Kegiatan pendataan inaktif pada saat bulan Ramadhan, dan aktif kembali satu minggu setelah Idul Fitri.



Ayo! (Is Isi Formulirnya)



Trims, sudah meluangkan waktu membaca dan mengisi formulir. Informasi lebih lanjut silahkan kontak Winar via 08562100915 atau via ocescreation@gmail.com




Akhir kata, alhamdulillah alhamdulillah, great thanx to Allah SWT, atas semua mua mua muah nyah.. dan mohon maaf buat teman-teman semua atas segala khilaf dan salah kata saya langsung ataupun tidak baik saat inikemarin2- dan akan datang. Trims, thanx, hatur nuhun, matur nuwun, grazie...



C U SOON dudes..........

Kukang Jawa The Foreword

Siapa Kukang Jawa?

Siapa tak kenal kucing & panda. Keduanya merupakan hewan imut & menggemaskan yang akrab yang bisa kita gendong & peluk (kucing & boneka panda maksudnya). Coba bayangkan, panda yang coklat putih, bukan hitam putih, yang agak-agak kurus seperti kucing, bukan bulet gendut. Bayangkan juga matanya yang bulat belo (bulat besar, bolotot (Sunda)) dengan lingkaran hitam, tapi yang ini lingkarannya coklat tua & ada tangkai yang menggaris ke arah dahi terus hingga punggung. Susah? Ya udah, coba lihat gambar di (akhir, di mana, nyumput) ini. Sudah mirip belum? :-D



Beberapa dari kita mungkin sudah pernah melihatnya, tapi mungkin dengan nama berbeda. Kuskus? Koala Irian? Panda Irian? Bukan, bukan, salah itu! Sahabat kita yang ‘baru tapi lama’ ini bernama Kukang. Orang Sunda mengenalnya sebagai Muka, Malu-malu, atau Oces. Katanya si K ini lebih suka nyumput alias menyembunyikan muka dengan tangan alias kaki depannya. Matanya menyala dalam gelap seperti juga kucing, dan selalu melangkah dengan pelan....sekali seperti malas. Tetapi perjumpaan pertamanya bisa langsung membuat kita jatuh hati karena gemas ingin menggendong & mengelusnya. Andai si K senang digendong & dielus-elus. Sayangnya si K itu bukan hewan jinak (meski tampak begitu, penampilan bisa menipu toh?!), dia hewan liar yang lebih suka menggulung diri, menyembunyikan mukanya, menghindar dari manusia.


Si K yang kelihatan bergerak malas & lamban ini sebenarnya punya taring yang katanya bisa menyalurkan ludahnya yang beracun bagi siapa saja yang mengganggu. Saudara-saudara si K yang telah menjadi peliharaan adalah hewan-hewan yang tidak mujur. Mereka lebih dahulu ketakutan setengah mati & tersiksa saat diculik dari rumah pohonnya, untuk kemudian penangkap atau pedagang akan memotong taringnya agar tidak membahayakan majikanya. Kasihan. Ini suatu bukti bahwa si K bukanlah hewan piaraan yang aman.

Dimana rumahnya?



Oh ya sebelum kita maen ke rumah atau habitat alias tempat hidupnya, mari kita kenal dahulu siapa sebenarnya si K ini. Meski terlihat mirip panda, kuskus, atau kucing, K bukanlah bangsa panda, kuskus, ataupun bangsa kucing. Dia justru tergolong sebagai bangsa primata bersama-sama dengan monyet & kera. Lho?! Iya, K merupakan keluarga monyet & kera yang kata para ahli paling primitif. Kenapa disebut demikian karena dibanding anggota primata lainnya yang lincah & pintar, K justru lamban karena bentuk tangan & matanya yang unik yang membuat dia tampak terlihat bodoh. Tampangnya sih memang tampak demikian memelas, tetapi sebenernya K punya otak yang relatif lebih besar yang menjadikannya lebih pintar daripada bangsa-bangsa hewan lain).

Ada 4 anggota bangsa primata yang tinggal di Indonesia; orangutan, owa, monyet, dan kukang. Di pulau Jawa yang luas hutannya justru paling sempit se-Indonesia, hidup tiga jenis monyet, satu kera, & satu pra-primata/prosimian. Mereka berlima terdiri dari monyet ekor panjang, lutung, surili, owa jawa, & kukang jawa. Si K ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, & beberapa kepulauan di Indonesia. Si K yang tinggal di pulau jawa jenisnya beda dengan keluarga K di pulau lain. Kita sebut saja dia KJ, si kukang jawa.


KJ tinggal di pepohonan & rumpun bambu di hutan-hutan kecil di Jawa. Di Sumedang, KJ dapat ditemui di kebun yang semi hutan, yang banyak rumpun bambu, & biasanya jarang diurus & dikunjungi manusia (Winarti, 2003). Kebun yang seperti ini dapat ditemui di semua daerah di Jawa Barat dengan sebutan Talun (Sunda). Letak talun biasanya agak dekat pemukiman atau tepi hutan alam. Di talun biasanya banyak hewan-hewan liar seperti musang bulan atau careuh (Paradoxurus javanicus), berbagai jenis burung, bajing, ular, dan tentunya kadal-cicak-tokek, kodok, serangga-kupu-kupu, & tentunya KJ.
Dalam kesehariannya, KJ makan buah-buahan, getah, air nira, nektar, cicak, & serangga yang berlimpah di talun. Hewan-hewan liar talun seperti KJ & careuh ini juga berperan sebagai penyebar biji-bijian tumbuhan, sehingga atas jasa mereka talun bisa tetap hijau. KJ & para penghuni talun lainnya mempunyai peran yang penting dalam keberlangsungan proses rantai makanan yang seimbang sehingga kelestarian alam tetap dapat terjaga. Selain dapat mengambil hasil talun berupa kayu, bambu dan buah-buahan, talun yang semi hutan akan dapat memberi manfaat bagi kita berupa kesejukan udara & cadangan air untuk daerah sekitarnya. Thanx to KJ n friends.


Kenapa KJ harus ditolong

Dari lima jenis primata jawa, KJ-lah satu-satunya yang primitif dan satu-satunya yang beraktivitas di malam hari (istilahnya nokturnal, untuk hewan yang aktif pada malam hari & tidur di siang hari). KJ pun dapat ditemukan hidup di hutan-hutan kecil yang dekat dengan kebun-kebun kita. Walaupun demikian keberadaanya sama sekali tidak mengganggu tanaman kebun. KJ & hewan-hewan hutan atau talun justru memberi manfaat besar bagi kita sehubungan dengan peran mereka sebagai bagian dari komponen penyeimbang kehidupan.
KJ adalah hewan liar yang unik & mulai langka karena sering diburu & habitatnya rusak. Kondisi ini pula yang menyebabkan KJ dilindungi oleh pemerintah agar tidak diburu ataupun dipelihara. Menurut IUCN-organisasi internasional pemerhati flora-fauna, informasi mengenai keluarga KJ tergolong minim data (Data Deficient); & menurut CITES-konvensi internasional pemerhati perdagangan hewan liar tergolong Apendiks II artinysa boleh diambil dari alam dengan syarat & ketentuan tertentu.


Bagaimana kondisi KJ di alam di Jawa? Sampai saat ini belum ada penelitian & bukti yang mengatakan mereka masih banyak. Padahal jika kita tidak menutup mata, KJ masih sering dijual di tempat penjualan hewan peliharaan. KJ banyak diburu dari alam untuk ini. Kita tidak tahu pasti bagaimana kondisi KJ di alam, tapi kita bisa tahu dengan melihat jumlah KJ yang banyak jadi peliharaan berarti telah mengurangi jumlah KJ di alam, sangat!
Berapa jumlah KJ sekarang, ada di daerah mana saja, apakah mereka dapat bertahan hidup & tidak punah, kita tidak tahu. Dengan kondisi hutan Pulau Jawa yang sempit, kecil-kecil, serta banyak yang rusak ditebangi, apakah KJ masih akan dapat hidup & berkembang biak? Semoga iya, agar tidak mati punah seperti badak jawa & harimau jawa. Semoga.


Ayo lestarikan KJ !

Kalau mengingat lucunya KJ bawaanya kita pengin memelihara. Tapi coba ingat betapa bahagianya kita bisa tinggal nyaman di rumah, tentu KJ juga. Kita masih dapat belajar & beraktifitas dengan baik jika kita berada dalam kondisi sehat & enak di lingkungan kita, KJ juga. Dia harus makan & hidup sehat agar dapat berperan bagi habitat/tempat tinggal alaminya. Kita harus sadar bahwa udara sehat & air yang segar ini ada karena masih ada tumbuhan di sekitar kita yang dibantu penyebarannya oleh hewan-hewan liar. Kita harus lindungi tumbuhan & habitat hewan.

Jika kondisi habitat atau tempat hidup kukang yang di Jawa sudah yang banyak rusak & hilang, bagaimana KJ bisa tetap hidup & memberi manfaat bagi kita?
Teman-teman jangan pernah pelihara KJ ya...! KJ lebih senang tinggal di habitat alaminya. Jika kita memelihara satu ekor KJ saja, coba bayangkan berapa tumbuhan yang bergantung penyebaran hidupnya pada hewan imut ini. Sebagai peliharaan, karena KJ adalah bangsa primata (sebangsa dengan monyet & kera), dia lebih mudah menularkan & ditulari penyakit. Untuk dapat teman-teman timang & sayang-sayang, KJ harus ketakutan & tersiksa saat diburu & dipotong taringnya. KJ bukan hewan peliharaan, dia hewan liar yang dilindungi. Memelihara KJ berarti melanggar hukum. Masih ingin memelihara KJ? Say No! Biarkan KJ hidup di habitat alaminya. Ayo kita lindungi habitatnya!

Siapa Kukang Jawa?

Materi Dasar Mengenal KUKANG JAWA
Siapa Kukang Jawa (kuja)? Siapa tak kenal kucing & panda. Keduanya merupakan hewan imut & menggemaskan yang akrab yang bisa kita gendong & peluk (kucing & boneka panda maksudnya). Coba bayangkan, panda yang coklat putih, bukan hitam putih, yang agak-agak kurus seperti kucing, bukan bulet gendut. Bayangkan juga matanya yang bulat belo (bulat besar, bolotot (Sunda)) dengan lingkaran hitam, tapi yang ini lingkarannya coklat tua & ada tangkai yang menggaris ke arah dahi terus hingga punggung. Susah? Ya udah, coba lihat gambar di (akhir, di mana, nyumput) ini. Sudah mirip belum? :-D
Beberapa dari kita mungkin sudah pernah melihatnya, tapi mungkin dengan nama berbeda. Kuskus? Koala Irian? Panda Irian? Bukan, bukan, salah itu! Sahabat kita yang ‘baru tapi lama’ ini bernama Kukang. Orang Sunda mengenalnya sebagai Muka, Malu-malu, atau Oces. Katanya kukang lebih suka nyumput alias menyembunyikan muka dengan tangan alias kaki depannya. Matanya menyala dalam gelap seperti juga kucing, dan selalu melangkah dengan pelan....sekali seperti malas. Tetapi perjumpaan pertamanya bisa langsung membuat kita jatuh hati karena gemas ingin menggendong & mengelusnya. Andai kukang senang digendong & dielus-elus. Sayangnya kukang bukanlah hewan jinak (meski tampak begitu, penampilan bisa menipu toh?!), dia hewan liar yang lebih suka menggulung diri, menyembunyikan mukanya, menghindar dari manusia.

Si Kukang yang kelihatan bergerak malas & lamban ini sebenarnya punya taring yang katanya bisa menyalurkan ludahnya yang beracun bagi siapa saja yang mengganggu. Saudara-saudara kukang yang telah menjadi peliharaan adalah hewan-hewan yang tidak mujur. Mereka lebih dahulu ketakutan setengah mati & tersiksa saat diculik dari rumah pohonnya, untuk kemudian penangkap atau pedagang akan memotong taringnya agar tidak membahayakan majikanya. Kasihan. Ini suatu bukti bahwa kukang bukanlah hewan piaraan yang aman.
Dimana Rumahnya? (rumah=habitat)
Oh ya sebelum kita maen ke rumah atau habitat alias tempat hidupnya, mari kita kenal dahulu siapa sebenarnya si kukang ini. Meski terlihat mirip panda, kuskus, atau kucing, kukang bukanlah bangsa panda, kuskus, ataupun bangsa kucing. Dia justru tergolong sebagai bangsa primata bersama-sama dengan monyet & kera. Lho?! Iya, kukang merupakan keluarga monyet & kera yang kata para ahli paling primitif. Kenapa disebut demikian karena dibanding anggota primata lainnya yang lincah & pintar, kukang justru lamban karena bentuk tangan & matanya yang unik yang membuat dia tampak terlihat bodoh. Tampangnya sih memang tampak demikian memelas, tetapi sebenernya kukang punya otak yang relatif lebih besar yang menjadikannya lebih pintar daripada bangsa-bangsa hewan lain).
Ada lima anggota bangsa primata yang tinggal di Indonesia; orangutan, owa, monyet, tarsius, dan kukang. Di pulau Jawa yang luas hutannya justru paling sempit se-Indonesia, hidup tiga jenis monyet, satu kera, & satu pra-primata/prosimian. Mereka berlima terdiri dari monyet ekor panjang, lutung, surili, owa jawa, & kukang jawa. Kukang ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, & beberapa kepulauan di Indonesia. Kukang yang tinggal di pulau jawa jenisnya beda dengan keluarga kukang di pulau lain. Kita sebut saja dia kuja, si kukang jawa.
Kuja tinggal di pepohonan & rumpun bambu di hutan-hutan kecil di Jawa. Di Sumedang, kuja dapat ditemui di kebun yang semi hutan, yang banyak rumpun bambu, & biasanya jarang diurus & dikunjungi manusia (Winarti, 2003). Kebun yang seperti ini dapat ditemui di semua daerah di Jawa Barat dengan sebutan Talun (Sunda). Letak talun biasanya agak dekat pemukiman atau tepi hutan alam. Di talun biasanya banyak hewan-hewan liar seperti musang bulan atau careuh (Paradoxurus javanicus), berbagai jenis burung, bajing, ular, dan tentunya kadal-cicak-tokek, kodok, serangga-kupu-kupu, & tentunya kuja. Dalam kesehariannya, kuja makan buah-buahan, getah, air nira, nektar, cicak, & serangga yang berlimpah di talun. Hewan-hewan liar talun seperti kuja & careuh ini juga berperan sebagai penyebar biji-bijian tumbuhan, sehingga atas jasa mereka talun bisa tetap hijau. Kuja & para penghuni talun lainnya mempunyai peran yang penting dalam keberlangsungan proses rantai makanan yang seimbang sehingga kelestarian alam tetap dapat terjaga. Selain dapat mengambil hasil talun berupa kayu, bambu dan buah-buahan, talun yang semi hutan akan dapat memberi manfaat bagi kita berupa kesejukan udara & cadangan air untuk daerah sekitarnya. Thanx to kuja n friends.
Kenapa Kukang Jawa harus ditolong?
Dari lima jenis primata jawa, kuja-lah satu-satunya yang primitif dan satu-satunya yang beraktivitas di malam hari (istilahnya nokturnal, untuk hewan yang aktif pada malam hari & tidur di siang hari). Kuja pun dapat ditemukan hidup di hutan-hutan kecil yang dekat dengan kebun-kebun kita. Walaupun demikian keberadaanya sama sekali tidak mengganggu tanaman kebun. Kuja & hewan-hewan hutan atau talun justru memberi manfaat besar bagi kita sehubungan dengan peran mereka sebagai bagian dari komponen penyeimbang kehidupan. Kuja adalah hewan liar yang unik & mulai langka karena sering diburu & habitatnya rusak. Kondisi ini pula yang menyebabkan kuja dilindungi oleh pemerintah agar tidak diburu ataupun dipelihara. Menurut IUCN-organisasi internasional pemerhati flora-fauna, informasi mengenai keluarga KJ tergolong terancam punah (ENDANGERED); & menurut CITES-konvensi internasional pemerhati perdagangan hewan liar tergolong Apendiks I artinya TIDAK boleh diambil dari alam kecuali untuk keperluan ilmu pengetahuan.
Bagaimana kondisi kuja di alam di Jawa?
Sampai saat ini belum ada penelitian & bukti yang mengatakan mereka masih banyak. Padahal jika kita tidak menutup mata, KJ masih sering dijual di tempat penjualan hewan peliharaan. Kuja banyak diburu dari alam untuk ini. Kita tidak tahu pasti bagaimana kondisi kuja di alam, tapi kita bisa tahu dengan melihat jumlah kuja yang banyak jadi peliharaan berarti telah mengurangi jumlah kuja di alam, sangat! Berapa jumlah kuja sekarang, ada di daerah mana saja, apakah mereka dapat bertahan hidup & tidak punah, kita tidak tahu. Dengan kondisi hutan Pulau Jawa yang sempit, kecil-kecil, serta banyak yang rusak ditebangi, apakah kuja masih akan dapat hidup & berkembang biak? Semoga iya, agar tidak mati punah seperti badak jawa & harimau jawa. Semoga.
Ayo lestarikan kukang jawa
Kalau mengingat lucunya kuaj bawaanya kita pengin memelihara. Tapi coba ingat betapa bahagianya kita bisa tinggal nyaman di rumah, tentu kuja juga. Kita masih dapat belajar & beraktifitas dengan baik jika kita berada dalam kondisi sehat & enak di lingkungan kita, kuja juga. Dia harus makan & hidup sehat agar dapat berperan bagi habitat/tempat tinggal alaminya. Kita harus sadar bahwa udara sehat & air yang segar ini ada karena masih ada tumbuhan di sekitar kita yang dibantu penyebarannya oleh hewan-hewan liar. Kita harus lindungi tumbuhan & habitat hewan.
Jika kondisi habitat atau tempat hidup kukang yang di Jawa sudah yang banyak rusak & hilang, bagaimana kuja bisa tetap hidup & memberi manfaat bagi kita? Teman-teman jangan pernah pelihara kuja ya...! Kuja lebih senang tinggal di habitat alaminya. Jika kita memelihara satu ekor kuja saja, coba bayangkan berapa tumbuhan yang bergantung penyebaran hidupnya pada hewan imut ini. Sebagai peliharaan, karena kuja adalah bangsa primata (sebangsa dengan monyet & kera), dia lebih mudah menularkan & ditulari penyakit. Untuk dapat teman-teman timang & sayang-sayang, kuja harus ketakutan & tersiksa saat diburu & dipotong taringnya. Kuja bukan hewan peliharaan, dia hewan liar yang dilindungi. Memelihara kuja berarti melanggar hukum. Masih ingin memelihara Kuja? Say No! Biarkan kuja hidup di habitat alaminya. Ayo kita lindungi habitatnya!

(lagi) Mengapa Kita TIDAK BOLEH MEMBELI & MEMELIHARA KUKANG

Tulisan yang tertuang karena gemas dengan alasan para penyayang hewan kukang Hampir empat tahun perjalanan kami berkukang-ria, sepenuh hati...