Survey 1: 2 individu per km!!

Survey keberadaan & sebaran Kukang Jawa (KJ) & habitatnya telah kami selesaikan awal Desember ini. Alhamdulillah dengan dua tambahan anggota baru, yang dua-duanya belum pernah melihat KJ di alam, sungguh sangat membantu. Fadli & Asep Gatto. Mereka langsung didaulat memegang tanggung jawad dalam tim, & bagusnya mereka bisa langsung 'tune in'. Fadli bertanggung jawab mendokumentasikan koordinat, alias jadi Tukang GPS (Global Positioning System, alat untuk mengetahui & menentukan koordinat posisi kita via bantuan satelit). Asep Gatto bertanggung jawab mendokumentasikan & menganalisa vegetasi habitat KJ.

Lokasi satu ini adalah Desa Sukamaju, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya. Di lokasi ini kami melakukan survey dengan dua metoda Recce Walk (RW) & Line Transect (LT). Metoda pertama merupakan metoda yang masih menjadi diskusi para ahli ekologi & statistik, mengenai validitas datanya. Masing-masing metoda memiliki keunggulan & kelemahan sesuai fungsi & tujuannya. Metoda RW tidak dapat menghasilkan data kepadatan populasi, tetapi hanya menghasilkan indeks linear kilo meter terakhir. Hasilnya adalah jumlah individu/km. Sedangkan metode LT dapat menghasilkan suatu angka estimasi densitas/kepadatan, yaitu jumlah individu/km kuadrat.

Baiknya metode RW adalah kita tidak perlu menelusuri garis yang lurus, tidak perlu menghitung jarak tegak lurus dari transek-obyek, & memang dimaksudkan untuk dapat mengambil data dengan cepat. Metode RW diterapkan jika kita akan mengambil data dalam keterbatasan waktu (short survey), karenanya jalur RW justru memilih jalur yang paling mudah untuk ditelusuri, tidak harus lurus seperti LT, bahkan juga bisa dengan menelusuri jalan yang biasa dilalui manusia. Pola ini sangat dihindari dalam survey ekologi karena dapat menghasilkan bias. Sebagaimana kita pahami, sebaran satwa liar cenderung menghindari manusia, begitu pula dengan vegetasi. Sebaran & struktur vegetasi akan berbeda berdasar ketinggian & akibat pengaruh akses manusia. Pengambilan data LT harus benar-benar representatif & random sampling (nah lho!)

Diskusi lebih lanjut... kontak kami dong..! Dengan senang hati kami bersedia mendiskusikan hal ini. Sekarang yang ingin kami kabari adalah kami berhasil bertemu dengan sekian individu KJ hingga menghasilkan data akhir sebaran 2 individu per kilo meter. Pada setiap perjumpaan kami berhasil menemui satu, dua, tiga, hingga empat individu KJ sekaligus. Berbagai fenomena baru tentang sleeping site, sleeping posisition, hingga fenomena ludah beracun pada KJ berhasil kami temui saat survey ini. Seru! Sebagian besar data memang masih menjadi diskusi & analisis kami, sehingga belum bisa diposting ke sini.

Selain itu berbagai pengalaman & pembelajaran juga dengan sukses kami raih. Kami yang pada awalnya sangat tergantung pada keputusan Winar selaku pengontrol agenda kegiatan, menjadi akhirnya berlomba-lomba memberi kontribusi & inisiatif bagi pelaksanaan program. Semua berperan, semua bisa & 'ngaruh' ! Sungguh senangnya bekerja bersama-sama... ;-)
Beberapa sahabat Ecoadcom yang masih belum mendapat kesempatan ataupun meluangkan waktu turun ke lapangan, dengan sangat antusias kami teriakkan: Ayo! Trust us, it is really an extra ordinary experience ever!

Mari bersama-sama bergerak mendukung upaya pelestarian alam & isinya, melalui program pelestarian Kukang Jawa Priangan (The Javan Slow Loris Conservation Program).

1 comment:

Teratai Berkembang said...

wah,,, seneng bgt bacanya..
jadi makin semangat nih lebih dekat dgn Kukang di alam..

Semoga Pelestarian Kukang Jawa dpt berjalan dgn lancar dn sukses agar upaya konservasi dpt trcapai..

-salam lestari-

(lagi) Mengapa Kita TIDAK BOLEH MEMBELI & MEMELIHARA KUKANG

Tulisan yang tertuang karena gemas dengan alasan para penyayang hewan kukang Hampir empat tahun perjalanan kami berkukang-ria, sepenuh hati...