TJSL CP (tentang kami)

Kami, tim The Javan Slow Loris Conservation Program/Program Pelestarian Kukang Jawa, adalah tim penggerak pelestarian kuja yang aktif sejak Oktober 2007.

Tujuan
Pelestarian kukang jawa

Penelitian integratif tentang kukang jawa: ekologi, konservasi, genetik, morfologi

Dukungan terhadap ekoturisme berbasis lokal

Area
Periode I - 2007-2008: Tasikmalaya – Ciamis, Jawa Barat
Periode II – 2009 – 2010: Jawa Barat (Kontak kami)

Sejarah TJSL CP

Kegiatan kami berawal dari antusiasme salah seorang dari kami, Winar, yang cinta berat pada Kukang jawa (kuja) sejak masih sekolah di Jatinangor dulu.

Winar bersama-sama teman-teman main gunungnya di Rajapolah Tasikmalaya juga teman-teman aktifis lingkungan dari Bandung mulai berkeliling camping mengunjungi lokasi yang dikabarkan terdapat kuja. Waktu itu kami baru bertujuh: Winar, Wawan, Ian, Anggit, Kiki, Dedi fahru, & Auh. Kegiatan kami waktu itu masih berlandaskan senang-senang alias hanya camping untuk refreshing (entah Winar, sepertinya dia sudah mulai membangun angan-angan kegiatan lanjutannya deh saat itu..). Kegiatan jalan-jalan & camping yang kami lakukan selalu berjudul ‘curak-curak’, hore.. (curak-curak bahasa Sunda = senang-senang).

Kami, hobiis jalan-jalan ini, memiliki latar belakang asal-bahasa-pendidikan-harta & warna kulit (lho?) masing-masing. Ada jawa-sunda, ada mahasiswa-pengrajin-montir-pegawai swasta-pengangguran, ada pencinta alam-fotografer-tukang shooting-sekedar pengen jalan-jalan, dan lain-lain. Bhineka tunggal ika juga kan..

Di setiap kegiatan jalan-jalan, personel yang ikut bisa berubah jumlah atau niat, tergantung waktu & serta kondisi keuangan masing-masing. Kadang bertujuh, bersepuluh, bahkan meski hanya bertiga kami tetap jalan-jalan. Saking hobi tersebut sudah mendarah daging, hampir tiap bulan kami jalan-jalan.

Ke curug tilu, gunung syawal:
Ke cipatujah,
kampung naga, galunggung

Seru! Biasanya karena kebanyakan dari kami duitnya selalu pas-pasan, kami selalu saling dukung. Iuran atau kencleng (=mengedarkan wadah untuk diisi uang iuran sukarela) selalu jadi penolong. Jalan-jalan versi hemat & super hemat pun tetap berlangsung. Yang penting jalan-jalan. Banyak sekali cerita seru, suka-duka, curhat-kisah & kenangan tak terlupakan..

Hingga akhirnya beberapa dari kami sepakat mengikrarkan diri dalam wadah komunitas penjelajah alam priangan bertajuk ECOADCOM (http://www.ecoadcom.blogspot.com/). Ecoadcom adalah singkatan dari eco-adventure community, yang artinya komunitas penjelajah alam (terjemahan bebasnya komunitas penjelajah alam Priangan, karena kebanyakan dari kami tinggal di & lokasi kegiatan di Priangan).

Ecoadcom adalah wadah & sarana bagi komunitas penyuka jalan-jalan, pencinta alam, hobiis fotografi/sinematografi, dan lain-lain yang berhubungan dengan jalan-jalan ke alam-budaya-satwa liar. Keanggotaan bersifat terbuka & sukarela. Kegiatan perdana resmi Ecoadcom adalah pelatihan fotografi satwa liar ‘Basic Training for Wildlife Photography’ di Cagar Alam Leuweung Sancang – Garut pada 1-3 Juli 2007. Fotografer satwa liar nasional: Riza Marlon berkenan menjadi mentor bagi kami & peserta (http://www.ecoadcom.blogspot.com/)

Teman-teman yang ikut jalan-jalan & kegiatan Ecoadcom tidak semuanya dapat ikut serta pada kegiatan sekarang (TJSL CP). Susan, Dewi, Ian, Kiki, dan hampir semua teman-teman Bandung yang sudah mulai sibuk dengan kuliah atau pekerjaannya kini hanya bisa mendukung kami (tim TJSL CP) dengan doa. Trims ya teman..

TJSL CP = Ecoadcom?
TJSL CP adalah kegiatan yang diinisiasi oleh perorangan yang seiring dengan perkembangannya menjadi suatu tim (Informasi Kegiatan). Beberapa dari anggota tim TJSL CP pada awalnya adalah perseorangan dari komunitas Ecoadcom. Oleh karena itu secara resmi program TJSL CP bekerja sama & merangkul Ecoadcom sebagai partner sejak 2007 (kegiatan Program Tasikmalaya-Ciamis 2007-2008). Sekarang, tim TJSL CP terdiri dari anggota partner TJSL CP (Ecoadcom) & personel lainnya (umum, aktifis, mahasiswa, peneliti, hobiis fotografi/videografi yang telah aktif bergabung sejak awal program).

No comments:

(lagi) Mengapa Kita TIDAK BOLEH MEMBELI & MEMELIHARA KUKANG

Tulisan yang tertuang karena gemas dengan alasan para penyayang hewan kukang Hampir empat tahun perjalanan kami berkukang-ria, sepenuh hati...